Senin, 21 Juni 2010

MAKALAH FILOLOGI
ANALISIS PRASASTI PAMOTOH ( UKIR NEGARA )



















Oleh :
Kelompok 4
1. Syamsul Arif ( 076168 )
2. Muhammad Santoso ( 076108 )
3. Nur Azizah ( 076126 )









PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
ANGKATAN 2007 D
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memmberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada penulis sehingga makalah yang berjudul “Analisis Prasasti Pamotoh ” ini dapat diselesaikan sesuai dengan sesuai rencana.
Tujuan penulisan Karya Tulis ini adalah untuk sebagai tugas Ujian akhir semester lima mata kuliah filologi. Makalah ini memberikan gambaran tentang pemahaman terhadap ilmu filologi khususnya dalam penelitian terhadap prasasti .
Dalam penyelesaian Karya Tulis ini, penulis mendapat bantuan dari beberapa dari berbagai pihak. Untuk itu, Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Susi Darihastining. S.Pd, S.Sos., M.Pd. Selaku ketua Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia
2. Asep Abas, M.Pd. yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan makalah ini.
3. Semua pihak yang telah membantu penulis.

Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna untuk itu, saran dan kritik dari pembaca sangat diharapkan. Atas saran dan kritiknya penulis mengucapkan terima kasih .

Penulis












DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................……………...………………..1
BAB I . PENDAHULUAN ……………………………………………………….3
1.1 .latar belakang ………............................……………………………...………3
1.2. Rumusan Masalah …………………........................………………………...5
1.3. Batasan masalah …………………................………………………………...5
1BAB II .LANDASAN TEORI …………........................…………………..…....6
2.1. sosiologi sastra…………... ………............................………………………..6
2.2. pengertian sastra ………… …………………………........…………………..7
2.3. pengertian novel …………........................………………………….……….9
2.4. unsure signifikan novel fiksi ……………………......……………………...10
2.5. nilai-nilai kehidupan dalam karya sastra ………………................…………15
2.6. status social tokoh ……………………....…………………………………..16
BAB III .PEMBAHASAN ……………………… ………………………..……18.
3.1. nama-nama tokoh ..………………………………………………………….18
3.2 . sikap hidup tokoh …... ……………………………………………………..20
3.3. status social tokoh …………………………………………………………..24
3.4. peristiwa yang terjadi ……………………………………………………….24
BAB 1V. PENUTUP ………………………………………………………….…28
4.1 kesimpulan …………………………………………………………….…….28
4.2. saran ……………………………………………………………….………..28
4.3. synopsis……………………………………………………………………...29












BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Studi terhadap karya tulis masa lampau merupakan adanya anggapan bahwa dalam peninggalan tulisan terkandung nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan masa kini.
Karya-karya tulisan masa lampau merupakan peninggalan yang mampu menginformasikan buah pikiran, buah perasaan, dan informasi mengenai berbagai segi kehidupan yang pernah ada. Karya-karya dengan kandungan informasi mengenai masa lampau itu sama dengan latar social budaya yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar social budaya masyarakat pembaca masa kini. ( Baroroh barid dkk: 1994:1)
Maka dalam mata kuliah filologi ini yang merupakan ilmu yang mempelajari tentang karya-karya sastra pada masa lalu yang sarat akan ilmu-ilmu pengetahuan yang di wariskan oleh orang-orang terdahulu.
Dalam filologi ini ada beberapa aspek cakupan pembelajaran yang akan diperoleh dalam penelitian ini diantaranya ialah :
1. Filologi sebagai ilmu tentang pengetahuan yang pernah ada
2. Filologi sebagai ilmu bahasa
3. Filologi sebagai ilmu sastra yang tinggi
4. Filologi sebagai studi teks ( Baroroh, 1994:3-4)
Di Indonesia dan khususnya jawa timur pada masa lalu berdiri kerajaan yang sangat besar dan kekuasaannya yang sangat luas, pastinya kerajaan itu mempunyai peradaban yang sangat tinggi. Dengan peradaban itu tentunya banyak budaya yang berkembang pada waktu itu. Tidak hanya budaya tetapi pemikiran, ilmu pengetahuan, agama dan gaya hidup yang mempengaruhi kehidupan mereka tentunya ada kesamaan atau mempengaruhi kebudayaan pada masa selanjutnya dan sampai kebudayaan pada masa sekarang. Prasasti merupakan dokumen bangsa yang palig menarik karena memiliki kelebihan yaitu dapat memberi informasi yang luas, dibanding peninggalan yang berbentuk puing bangunan besar seperti candi, istana raja, dan pemandian suci. Peninggalan yang berbentuk puing bangunan besar itu memberi informasi singkat dan harus ditafsirkan.
Manusia sebagai makhluk yang berkebudayaan memiliki aktifatas-aktifitas tertentu yang hasilnya dapat dirasakan oleh generasi kemudian. Manusia dapat berpedoman pada nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya atau dapat mengubahnya. Berkat warisan kebudayaan, manusia dapat mengatasi keruwetan-keruwetan hidupnya. Pewarisan budaya itu melalui bahasa. Oleh karena ruang lingkup buya itu luas sekali, dalam hal ini bahasa tidak hanya meliputi bahasa dalam arti yang sempit, melainkan meliputi segala macam simbol dan lambang yang dapat mencatat kebudayaan dari generasi satu ke generasi yang lain. Pada umumnya manusia makin hari makin sempurna. Jadai pada dasarnay kebudayaan adalah merupakan proses belajar yang besar yang menghasilkan bentuk-bentuk baru dengan menimba pengetahuan dan kepandaian dari kebudayaan sebelumnya. Meskipun demikian, kebudayaan sebgai proses belajar tidak menjamin perbaikan dan kemajuan sejati. Dengan berguru pada kesalahan dan kekeliruan, manusia mungkin akan menjadi lebih bijaksana. Maka untuk mengetahui lebih banyak kebudayaan yang berkembang pada masa itu dan sebagai referensi dalam bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa lalu. kami melakukan penelitian terhadap prasasti Ukir Negara (Pamotoh) yang merupakan karya tulis pada masa kerajaan Majapahit. Prasasti ini sejumlah 8 lempengan tembaga yang ditemukan di Desa Sirah Kencong, Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Dalam penelitian ini kami beri judul ” Analisis prasasti Ukir Negara ( Pamotoh )”
1.2 Rumusan masalah
Dengan latar belakang diatas dapat di rumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kodikologi prasasti Ukir Negara (Pamotoh) ?
2. Bagaimanakah Filologi Prasasti Ukir Negara (Pamotoh) ?
3. Apa makna yang terkandung dalam Prasasti Ukir Negara (Pamotoh) ?
1.3 Tujuan penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah diatas,tujuan penelitian ini sebagai berikut:
a. Tujuan Umum .
1. mengungkapkan produk masa lampau melalui peningglan tulisan
2. mengungkapkan fungsi peningglan tulisan pada masyarkat penerimanya baik pada masa lampau maupun pada masa kini
3. mengungkap nilai-nilai budaya pada as lampau.
b. Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui bagaimana kodikologi prasasti pamotoh yang ditulis pada masa lalu yang di jadikan sebagai tempat khasanah ilmu pengetahuan dan wawasan perkembangan tulis menulis pada masa kerajaan Majapahit yang merupakan hasil dari pemikiran dan kebudayaan pada masa lalu.
2. Untuk mengetahui bagaimana filologi prasasti Ukir Negara ( Pamotoh ) yang mencakup kajian-kajian beberapa sub ilmu pengetahuan dalam memahami manuskrip prasasti itu yang sarat akan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pandangan hidup yang mereka anut.
3. untuk mengetahui makna dari prasasti Ukir Negara ( Pamotoh ) yang merupakan pemahaman terhadap bahasa yang dipakai pada masa itu. Bahas yang berbeda pada masa jawa sekarang. Bahas yang dipakai dengan bahasa jawa kuno yang mempunyai nilai sastra yang sangat tinggi.
4. mengungkapkan bentuk mula teks yang tersimpan dalam peninggalan tulisan masa lampau.
5. mengungkapkan sejarah perkembangan teks
6. mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap suatu teks sepanjang menerimanya.
7. menyalin teks dalam bentuk yang terbaca oleh masyarakat masa kini yaitu dalm bentuk suntingan.

1.4 Manfaat penelitian
1. Dengan penelitian ini di harapkan memberikan sumbangsih wawasan yang dijadikan ilmu pengetahuan bagi semua lapisan masyarakat khususnya mahasiswa yang masih idealis mencintai karya-karya pada masa lalu yang dijadikan rujukan ilmu pengetahuan dan perbandingan kebudayaan pada masa sekarang.
2. Dengan penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran yang bisa diteruskan dikemudian hari untuk bisa ditindak lanjuti.
3. Dengan penelitian ini merupakan bukti pengabdian mahasiswa untuk menjalankan tridharma perguruan tinggi yaitu 1. pendidikan dan pengajaran . 2. penelitian. 3. pengabdian pada masyarakat.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini kami meggunakan metode pendekatan diplomatis. Yaitu naskah di produkai dengan malalui fotografis dan kemudian membuat transliterasi setepat-tepatnya tanpa menambahkan sesuatu.

































BAB II
KODIKOLOGI
Kodikologi adalah ilmu kodes. Kodeks adalah bahan tulisan tangan atau menurut the new oxford dictionary ( 1928 ): manuscript volume, esp of ancient text ”gulungan atau tulisan tangan terutama dari teks-teks klasik”. Kodikologi mempelajari seluk beluk atau semua aspek naskah, antara lain bahan, umur, tempat penulisan, dan perkiraan penulis naskah.
Setelah seni cetak ditemukan, kodeks berubah menjadi buku tertulis. Kodeks pada hakikatnya berbeda dengan naskah. Kodeks adalah buku yang tersedia untuk umum yang hampir selalu didahului oleh sebuah naskah. Kodeks mempunyai nilai dan fungsi yang sama dengan buku tercetak sekarang. Teks yang bersih ditulis pengarang disebut otografi sedangkan salinan bersih oleh orang-orang lain disebut opografi.
2.1. Kodikologi Prasasti Pamotoh (Ukir Negara)
Prasasti ukir pamotoh ( ukir negara ) terbuat dari tembaga yang berjumlah 8 lempengan. Prasasti ini ditemukan di Desa Sirah Kencong Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar. Tahun penemuannya tidak tercatat.
Prasasti Pamotoh terdiri dari tiga kelompok yaitu:
(1). Hanya satu lempeng hanya bertuliskan 5 baris di sisidepan dengan, adan 3 baris pada sisi belakang dan ada angka tahun 1304 saka ( 1382 M )ukuran tembaganya ialah : 36,2 x 11 x 0,3 cm. Adapaun bentuk prasasti ini dapat dilihat sebgai berikut .
Dari depan
Dari belakang

(2). Kelompok 2 terdiri atas 3 lempeng yang dua lempeng bertuliskan 6 baris bolak balik tetapi yang ketiga bertuliskan 5 baris di sisi belakang ukurang masing-masing dari kelompok 3 dari prasasti pamotoh adalah sebgai berikut : (a). 36,8 x 11 x 0,3 cm. (b). 37 x 10,4 0,3 cm dan (c). 36,5 x 10,5 x o,3 cm. Pada kelompok 2 ini berangka tahun 1120 saka ( 1198 ). Dapat dilihat sebgai berikut :
Dari depan
Dari belakang


(3) kelompok ketiga terdiri atas 4 lempeng semuanya bertuliskan 6 baris bolak balik-balik kecuali yang terakhir hanya berisi tulisasn 5 baris di satu sisi saja. Ukuran tiap lempeng dari kelompok 3 ini ialah : (a). 36,5 x 10,5 cm. (b). 36,6 x 10,5 x 0,3 cm. ( c ). 35,5 x 10,4 x 0,3 cm ( d ). 36,7 x 10,3 x 0,3 cm. Prasasti kelompok 3 iniu tidak ada angka tahunnya karena tembaga yang berangka tahun hilang.
Dari depan


Dari belakang



2.1.1. Struktur Prasasti
Asal mula prasasti semua adalah terbuat dari batu yang dititahkan oleh raja untuk membuat, dan orang yang memahat benar-benar sudah ahli untuk mengerjakannya. Dan jika terdapat kesalahan pada pembuatan prasasti itu pasti hukumannya adalah dipotong lehernya karena mereka sudah di biayai oleh pemerintah untuk sekolah dan belajar tentang memahat prasasti. Prasasti yang terbuat dari tembaga termasuk sudah tinulad ( salinan ) dari aslinya. Biasanya dalam proses penyalinan ini dilakukan oleh raja keturunan raja pertama yang menitahkan untuk menulis prasasti tersebut. Prasasti pamotoh ini sudah tinulad yang asalnya adalah dari batu yang kemudian disalin ke lempengan tembaga dengan alasan agar awet tidak lapuk termakan usia. ( Raka, 2009. dosen sejarah UM Malang ) .
Dapat dicontohkan dalam setiap prasasti yang terbuat dari batu pasti mempunyai struktur yang lengkap dan dapat dicontohkan sebgai berikut:
1. Manggala curana (uluk salam) Contoh:
= om avignamastu
= om namasivaya
= om dirustu
2. Unsure Penaggalan Contoh:
= om svasti caka varya tito
3. Nama Raja yang Memerintakan Menulis Prasasti Dilanjutkan Nama Pejabat Yang Meneruskan Pemerintahan Raja.
4. Sambandha (maksud ditulis prasasti itu untuk apa)
5. Daftar Nama – Nama Saksi Penetapan Tanda Sima Beserta Keadilan Yang Diperolehnya.
6. Daftar Nama – Nama Mengilalu Dwieya Raja (Pejabat – Pejabat Lingkungan Istanah). Yang Tidak Boleh Mungut Pajak Ditanah Sawa Yang Ditetapkan Itu.
7. Serapah – Serapah Smpah Kutukan – Kutukan.
8. Pesta Slametan.

 Contoh Prasasti Lengkap: Muncang Gulung – Gulung Jam – jam Ingga.
2.1.2. Isi Naskah Secara Umum
a. Isi Naskah Prsasti Pamotoh Kelompok 1.
Sejak bualan ke empat tahun 1304 saka ( 1382 M ) warga desa Marinci di bebaskan dari segala macam pajak .
b. Isi Naskah Prasasti Pamotoh Kelompok 2
Pada bulan Posha tahun saka 1120 (1198) Sri Digjaya Resi memberi anugrah kepada Dyah Limpa berupa rumah dan tanah dengan ukuran luas dihitung dalam istilah ”jung” disertai keterangan batas-batasnya. Alsan atau sebab-sebab di turunkannya anugrah tidak disebutkan prasasti ini ditulis oleh Mpu Dawaman di Talun.
c. Isi Naskah Prasasti Pamotoh Kelompok 3
Sri Dingkas Resi memberi anugarah kepada Dyah Limpa, Dyah Mqot, Dyah Duhet dan Dyah Rinami, masing-masing diberi tanah sima diseratai hak-hak istimewa. Anatara lain untuk memberikan budak, makanan-makanan istimewa hak mengatur denda dan lain-lain. Atauaran hukum bagi masing-masing. Dyah Duhet mendapatkan sima di gonggang. Dyah Tinami mendapatkan sima di rumah. Selain itu ada pemberian hadiah kepada rakyat Pamotoh dan lain-lain. Prasasti ditutup dengan kutukan bagi mereka yang melanggarnya.












BAB III
FILOLOGI
Dalam rangka mengungkapkan bentuk mula suatu teks yang tersimpan dalam prasasti, kerja filologi yang berhubungan dengan berbagai studi tentang berbagai faktor yang terkait dengan teks. Studi filologi yang diterapkan pada umumnya dan diterapkan di indonesia menganut apa yang diteliti dengan mengkiblat pada negara Belanda. Yaitu mencari inforamasi masa lampau yang berkaitan dengan adat istiadat, sejarah, hukum, kehidupan sosial obat obatan, kehidupan bergama filsafat, moral dan sebgainya.
Dalam penelitian ini hanya prasasti kelompok bagian yang ketiga saja yang kami teliti karena menurut asumsi peneliti bagian yang ketiga ini adalah inti dari prasasti pamotoh ini.
2. Naskah Prasasti Pamotoh



3. Naskah Tulisan Latin
1. ni warigadyan, kallingana denira sri maharaja nuniweh para tanda kabeh sama muku
2. raken cacadan, tan kawuntat samget malandan, lece, hateher asawit kbankalan a
3. jnu alan hamanan rin kalanan, satada nira sri maharaja, kapalihana de rakryan
4. pamotah, mulih tan pamit saken kalanan, wnan naminaminan widus guntin
5. asu bujet, tan kna rin pakran , pakrin pakalankan , pakalinkin ,tan knar in ludan tuta
6. n, rah kasawur in natar, wankebunun, wnan panadaganin jojor-anru judi gawur, nita
4. Makna Naskah Tulisan Latin

5. Di taman bunga ketika dikeluarkan oleh Srimaharaja memberikan panji-panji yang banyak pada tanah sima
6. yang berbukit yang didiami yang dapat turun sebagai pengantar di bangunnya tempat menuntut ilmu (kadewa guruan )
7. yang sebagai tempat pemerintah kehoramatan, temapat memuja dewa, kemulyaan yang dikeluarkan oleh Srimaharaja yang di bagikan buat patih karikyan pamotoh
8. kembali kejahatan yang akan binasa, tempat dewa yang ternoda yang ingkar pada penyembahan yang yang kemudian dialog ( diajari )dengan guru
9. untuk mengambil air yang giat dengan diikat yang tidak menipu agar dibiasakan untuk giat dan selalu menurut dan sebagainya.
10. darah yang tersebar di halaman, perpecahan yang ternoda yang di akibatkan saling bersaing dan menyombongkan diri dan perjudian.

11. Analisis

Dalam arti yang peneliti hasilkan ada beberapa hal yang harus dia garis bawahi yaitu :
1. Tentang pemerintahan yaitu penyerahan kekuasaan terhadap sebidang tanah kekuasaan yang diberikan oleh Srimaharaja kepada patih karikyan pamotoh.
2. Tentang peradaban yaitu bahwa pada waktu itu ada pembangunan tempat untuk dijadikan mencari ilmu atau sekolah yang dulu disebut dengan kadewaguruan.
3. Tentang kebudayaan bahwa pada waktu itu sebelum dibangunya tempat kadewa guruan banyak sekali rakyat yang melakukan tindakan kejahatan tempat pemujaan dewa yang tidak dipakai, selalu perang bahkan darah berceceran dimana-mana dan saling menymbongkan diri serta perjudian dengan di bangun kadewa guruan kejahatan sudah tidak ada .







































BAB IV
PENUTUP
4.1. Simpulan

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa banyak sekali ilmu yang dapat digali dari prasasti pamotoh (ukir negara) diantaranya adalah tentang kebudayaan pada masa lampau. Dapat dilihat dari prasasti ini adalah kebudayaan perjudian, peperangan dalam merebutkan kekuasaan.
Perdaban yang berkembang pada masa itu adalah membangun kadewaguruan yaitu tempat untuk menuntut ilmu yang sebagai senter tempat perkembangan dan kemajuan kekuasaan yang diberikan oleh raja.


4.2. Saran dan kritik
Dalam makalah ini penulis berharap dapat dibaca oleh semua pihak dan dapat dijadikan khasanah ilmu pengetahuan dan referensi khususnya mahasiswa yang idealis dengan cinta ilmu pengetahuan. penulis juga sadar masih banyak sekali kekurangan sehingga berharap pada semua pihak untuk memberikan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.




















DAFTAR PUSTAKA

L. Mardiwarsita. 1978. Kamus Jawa Kuna Indonesia.Nusa Indah: Flores NTT.
Siti Baroroh Barid dkk. 1994. Pengantar Teori filologi . Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas: Yogyakarta.









































LAMPIRAN-LAMPIRAN


1. Naskah asli



















2. Alaih bahasa latin
Kelompok I
Ia.
1. //0// Wruhanekan amapu tuturan, sawarnninin amupu tuturan in anaremba panalasan, parambi
2. kel, mantra hundabagi, yen andika ninon , dene kan anaramba hin dewa resi si samasanak in marinchi
3. irehane luputa rin tuturan sakalwiranin tuturan titisan saki dalem, luputin, padadah, pa
4. tatar, pawiwaha, pasahan, pabata, palantaran, pakamas, pupingan, pawrepi, papanjalin, para
5. wuhan, susukan, luputa rin bletepe sakin undahagi luputa rin, jajalukan, tundan la.
Ib.
1. wan dene kakayune rehanin tan kana garaha, tan ana hamerana, hanuta polahesajkiwaja ayo
2. hin uwaha, kan rajamudra lamun uwus den waca kagugona dene kan anaremba rin dewa resi, sis a
3. masanak in, marinchi, tithi, 4, sirah 4 //0//
Kelompok II
1a.
1. //0// wirastu //0// i sakakala. 1120 // sakakala nira jigyaya reni, tatkala wargga pamota
2. inugrahanira makanaran deh limpa, inugrahan denira raja risi, pomahanira deh
3. limpa winku wakul kakusta denira, manetan kidul in umah tkin juran pluk, sumenka tkin keger we
4. tanin sakrida malan , ak alihan wacid lawan mucu pasabhanira doh limpa, 20 makanaran i
5. gyin sawah bhatara buyut, 4, jun , mandala, 1, jun , wetanin pare pare, 2, jun, pajan, lor,
6. 1, jun , lagundi, 4 jun kidulin umah makaran in gadol damalan , 1, jun , i jbug, 1, jun , weta
1b.
1. nin pasar-I wuradunan, dallu, 4, jun , kidul i umah wetanin umah, i bulan , tlan , geger, makanaran in watu
2. kalem, betok tlun geger kallihan wcid lawan bah ndanin, pajjun, 22, jun , drewya haji , ma
3. 7 papadan kan apit dalan, jun , kulwan i human dagal, 5, pucan 1 jun i kisi, 1 jun wu
4. ddho, 9, jun , nayuga, 13, jun , kulwan i human dagal, 5, jun , ludun 2, jun , ahulul harahara drewa
5. haji ma 1, padanpan , kidulin umah i bulenu 4 jun , drewya haji ma 1, kawaren
6. 1, jun , drewya haji, ma 2, palihatan, 6 jun , drewya haji, ma 10, kateninan, 2 jun ,
I1a.
1. drwya haji, ma 2, kalawara, 11 jun , drewya haji, 8, madanta, 20 jun ,dina
2. yuran pakaruanan, 9 jun , dinayuan gaga rin sukalila makanaran watu kuma
3. lasa samankana lebak sasima nira dyah limpa, ikan panugraha nira srarada re
4. pi jun sira dyah limpah, satus jun , 30, muwaharik nira dyah limpa i para wise
5. ya satagan kanuruhan, pinuruhan, pinupunaken waru gunun makanaran redi leger kre
6. pan hayyun, ma 1, tadah, kku 1, gigil, ma 1, tadah, ku1, banusni, ma 1, tadah, ku 1,
IIb.
1. panahatan, ku 1, tadah, sa 1, kabanlan, ma 1, tadah, ku 1, Ibu, ma 1, tadah, ku 1,
2. paniwen, ma 1, tadah, ku 1, kawal, ma 1, tda, ku 1, bubur, ma, 1, ta
3. dah, ku 1, gupura, ma 1, tadah, ku 1, sumpud, ma 1, tadah, ku, 1, dadus
4. ma, 1, tadah, ku 1, magaga, ku 1, wijila wasayatagan tingin, //10//mawa
5. tagan patan, hwaran, ma, 1, tadah, ku 1, ckan , ku 2, tadah, sa 2, tinambahan ku
6. 2, tadah, sa 2, wla, ku 2, tadah, sa 2, padugan, ku 3, tadah, sa 3, junan, ku
IIIa.
3, tadah, sa 3, wanwa baru, ka 3, tadah, sa 3, gadan , ku 3, tadah, sa 3, talon, ku
1. 2, tadah, sa 3, wijil i tagan, patan //0// muwah tagan dungulan dama
2. lan , ku 3, tadah, sa 3, papani, ku 3, tadah, sa 3, manisiwi, ku 3, tadah, sa 3, swaswa, ku 3,
3. tadah, sa 3, sagengen , kku 3, tadah, sa, ku 3, tadah, sa 3, kukubah, ku 3, ta
4. dah, sa 3, sagengen , ku 3, tadah, sa, 3, tintwa, kku 3, tadah, sa 5, ma 6, ku 3, wi
5. jilin tagan dungulan //0// muwuh katagon palakan sawadah, ma 1, tadah,
IIIb.
1. tadah ku gdahan, ku 3, tadah, sa 3, paniwen, ma 1, tadah, ku 1, tatangalur
2. ku 3, tadah ku sa 3, magaga, ku 1, harika warga pamotah kasila para wisa
3. tagan kanuruhan //0// i saka 1120 posya kamasa tithi sasti wu, pa,
4. ca, nin wariga sampun sinurat rin talon denpu dawaman tuntun wres sasih
5. tabda wara //0// on nama siwaya, ba, ta, a, i,
Kelompok III
Ia.
1. byakta sira jijaya rese mananugrahi i sira dyah lilmpa, dyah mgat, dyah duhet dyah
2. tinami, samankana kweh nira inanugrahan denira jijaya reni, Iwirnin pananugraha
3. nira pakyanan rakyan pamotah, kawnan-wnannira, manuluna pujut, gadin ma
4. cabol, nuniweh mapajin wulun , makampek wulun magutin hararen palanka gadin ma
5. pagut apajin manusuna palanka matutugena, huluguha rin pasarana, marinrina bananten
6. rakyar pamotah, makadulu kapujaji, makasadanan waraha, anken, we, we, Buddha
Ib.
7. ni warigadyan, kallingana denira sri maharaja nuniweh para tanda kabeh sama muku
8. raken cacadan, tan kawuntat samget malandan, lece, hateher asawit kbankalan a
9. jnu alan hamanan rin kalanan, satada nira sri maharaja, kapalihana de rakryan
10. pamotah, mulih tan pamit saken kalanan, wnan naminaminan widus guntin
11. asu bujet, tan kna rin pakran , pakrin pakalankan , pakalinkin ,tan knar in ludan tuta
12. n, rah kasawur in natar, wankebunun, wnan panadaganin jojor-anru judi gawur, nita
IIa.
1. sawun , wawaran lakulaku, tungul buntulu, panjalu, tan atata siren gasek pasemuta
2. n gongon tumuh, nuniweh salwirma kabeh, kabuban de rakyan pamotah
3. tan apakaranen, kkunen yan nana napakara, kadenda de rakyan pamotah ku 1
4. su 5, kunen ikan llinaranan rakryan pamotah patan juru, hamikul celen salah laya
5. d ajunan, hamapas kapujan, gundi kaki layu, pangilinan peped, lungahin bayem sebit
6. t sereh lumbin sigitan, celen ginadinggdin, hanarak celen tlun puluh inalan tu
IIb
1. ngal, galah inalapan tungal, wrekal inalapan tungal, geren inalapan tugal,
2. twak mereh karun aranya, karun, mati ri wisaya, interaken i rakryan pamotah
3. saha, pirak, ku 2, lewasa kunen manateraken pirak, ku 2, ya tan prayatna irika
4. kadenda de rakyan patan juru, ka 1, su 5, muwah gundi kan nilo, wan mlanmlan , predhana managih
5. rink ala nin wariga pulun pujut ri harep i wuri salek, nirbagna san predhana, ri kala nin pu
6. ja haji, rakryan patan juru, sakala nin wado daren re gasak rink ala ni puja, baknana
IIIa
1. n-kakenan cinta palakwan //0// swasti saka warsatita, i saka, asaa masa, ma, wa, ca, nin, duku
2. t, tithi nawami krsna, sampunira jigyaya resi, manugrahani i dyah limpa rin gasak
3. dyah mgat i pasemutan, dyah duhet rin gongon ,dyah tinami i tumuh, saka wnan nira prabhu tan a
4. gata rakyan patan juru managohana wnan nira prabhu //0// nabhaya nira jigyaya resi, yan hana prabhu
5. manukah manukih saka wnan rakryan catu juru rin gasek. Kapadrawa then dewatanya nuniweh i
6. kan wan kanista tan dadyawa mawah salwirnin papa kabhuktya denya. Yan paren wenkasahala de
IIIb.
1. san wodo mankana kapanguh rakryan patan juru makadi rin gasak //0// i daten rakryan pamo
2. toh mamupwa harik, manemwa kasapocaran mawdihan, manemwa kalasa hanar, kunen,
3. ikan harik apapun de rakryan wargga pamotah, tan anara tan asema, kunen yan
4. narasem kadenda de rakryan pamotah, ka 1, su 5, muwah wwan tinalen malo
5. cati 1mah rakryan pamotah tan agata manu wakna waneh rakryan pamotah ma
6. mupu hawu hanken tolu, salek hiharep i wuri, rakryan pamotah watan juru, ta
A.
1. nin tuwiran, yen paren nalas kadmaka denin yan, samberen in glap,
2. halapen in pamotah,, tan katemwa phalanin nahurip, kopadra
3. wa denin dewata kabeh yen hana manruwat nugrahanira jija
4. ya reni samppun inastwaken deni dewata kabeh, astu om namo
5. catureswara //0//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar